Sumbawa, SelarasNews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumbawa sudah lebih dari sebulan beroperasi dan baru ada 10 SPPG. Dari pantauan media ini kehadiran Program ini memberi dampak pada ekonomi lapisan bawah seperti peternak dan petani.
Program MBG merupakan program dari pemerintah pusat untuk pemenuhan gizi anak hingga ibu hamil serta sebagai upaya pencegahan stunting.
Baca juga : Pastikan MBG Merata, Pemda Sumbawa Ajukan 30 SPPG Untuk 16 Kecamatan Wilayah 3T
Selain itu, program ini sangat membantu masyarakat secara langsung karena untuk kebutuhan makanan dari program ini didapat dari masyarakat lapisan bawah seperti petani, peternak hingga nelayan.
Ketua Koperasi Konsumen Syariah BMT Insan Samawa, Rai Saputra, yang merupakan salah satu pemasok kebutuhan Program MBG di beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumbawa, saat ditemui media ini di ruang kerjanya pada Kamis, (30/10) mengatakan kehadiran Program MBG sangat membantu masyarakat terutama petani, peternak hingga nelayan.

Ia mengajak masyarakat memahami Program MBG secara menyeluruh sebagai upaya peningkatan gizi anak sekaligus penggerak ekosistem usaha dan ekonomi di lapisan bawah.
“MBG ini bukan hanya sekadar menyasar peningkatan gizi anak, tetapi juga membangun sebuah ekosistem usaha agar betul-betul ekonomi bergerak di lapisan bawah,” ujarnya.
Baca juga : Dinilai Tingkatkan Konsentrasi Siswa, SD Negeri Raberas Berharap Ada Tambahan SPPG
Dengan melibatkan petani, peternak, Nelayan, UMKM, hingga penyedia bahan pangan, program ini mendorong terciptanya perputaran ekonomi dan peningkatan permintaan komoditas lokal.
“Adapun dampak ekonomi dari program MBG tidak kalah penting dibandingkan aspek gizi. Karena satu SPPG bisa melibatkan hingga belasan pemasok dan setiap pemasok memiliki 3 sampai 5 pekerja,” jelasnya.

selain itu,ndapur-dapur MBG yang beroperasi setiap hari membuka lapangan kerja baru, terutama bagi ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Kebutuhan bahan pangan seperti sayuran, daging, telur, dan beras juga meningkat, sehingga menggerakkan rantai pasok di pasar tradisional ikut meningkat juga,” tutupnya. (SN/01)

