Sumbawa, SelarasNews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto bukan hanya sebuah upaya investasi sumber daya manusia, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi seperti sektor pertanian.
Program MBG ini memiliki pasar yang jelas, sehingga petani di Kabupaten Sumbawa mulai memanfaatkan keberadaan Program itu dengan konsisten menanam sayur dan buah.
Baca juga : 11 SPPG di Sumbawa Sudah Memenuhi Seluruh Standar Operasional
“Hal ini dilakukan guna meningkatan ekonomi dan produksi karena sebelumnya sayur dan buah sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati, saat dihubungi media ini pada Sabtu, (29/11).

Ia mengatakan dalam pelaksanaannya ke depan, program ini memicu dampak yang signifikan, baik dari sisi peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan maupun dari sisi ketahanan pangan nasional.
“Program ini tidak hanya memberikan makan bergizi, tetapi juga membuka peluang bagi pembangunan terintegrasi sektor pangan seperti kedaulatan pangan dan ketahanan manusia sektor pangan,” ujarnya.
Baca juga : Agar Dirasakan Masyarakat Keberadaannya, SPPG Diminta Serap Komoditas Lokal Untuk MBG
Pelaksanaan program menjamin kesinambungan pasokan bahan pangan. Karena itu, petani di Kabupaten Sumbawa diminta untuk mampu memanfaatkan keberadaan Program MBG ini.
Ia mengungkapkan agar produktivitas tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, inovasi teknologi dan penggunaan varietas benih unggul diterapkan.

“Saat ini beroperasi sekitar 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan membutuhkan lebih kurang 1 ton sayur dalam seharinya,” jelasnya.
Adanya program ini memberikan kepastian pasar dan harga bagi para petani, karena SPPG selalu membutuhkan sayur setiap harinya dan petani diminta untuk dapat memanfaatkan peluang ini.
Baca juga : Pastikan MBG Merata, 32 SPPG Wilayah 3T di Sumbawa Mulai Dibangun Tahun Ini
“Selama ini untuk kebutuhan sayuran masyarakat Kabupaten Sumbawa kebanyakan didatangkan dari Pulau Lombok bahkan Bima,” terangnya.
Berbagai jenis sayuran dan bahan bumbu setiap hari didatangkan para pedagang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara tanaman sayur lokal hanya menjadi pelengkap karena tidak bisa setiap hari berproduksi. (SN/01)

