Kian Bertambah Masyarakat Diminta Waspada, Sebanyak 877 Kasus TBC Terjadi Di Sumbawa

Kian Bertambah Masyarakat Diminta Waspada, Sebanyak 877 Kasus TBC Terjadi Di Sumbawa

Sumbawa, SelarasNews.id – Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit menular dan penanganannya memerlukan sinergi lintas sektor, melibatkan tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat.

TBC hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, termasuk di indonesia.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan bisa menular melalui udara, terutama ketika penderita batuk atau bersin.

Baca juga : Hasil PKG Didominasi Diabetes dan Hipertensi, Dikes Sumbawa Minta Masyarakat Perhatikan Pola Makan

Kasus TBC di Kabupaten Sumbawa kian Mengkhawatirkan. Hingga saat ini tercatat sebanyak 877 kasus ditemukan atau sekitar 55 persen dari target. Guna mewujudkan eliminasi TB diperlukan langkah strategis dengan membentuk Desa Siaga TB.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, yang ditemui media ini di ruang kerjanya pada Selasa, (02/12) mengatakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa menetapkan tiga desa sebagai desa percontohan bebas tuberkulosis.

“Hal ini dilakukan terlebih lagi tahun ini Kabupaten Sumbawa menargetkan penemuan kasus TBC sebanyak 1.067 kasus dan ditemukan sebanyak 877 kasus atau sebesar 55 peren dari target,” ungkapnya.

Baca juga : Operasi Zebra Rinjani 2025 Berakhir: Polres Sumbawa Catat 42 Tilang, Ratusan Teguran, dan Satu Lakalantas

Langkah ini menjadi terobosan mendukung target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030.

“Program Desa Bebas TBC (DBT) ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga mengedepankan upaya pencegahan berbasis partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Langkah ini merupakan strategi konkret dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera dan berdaya saing.

Baca juga : Tenaga Kesehatan Berperan Besar Wujudkan Generasi Indonesia Emas 2045 di Sumbawa

“Ini harus dimulai dari tingkat desa akan terbentuk komunitas-komunitas yang peduli kesehatan dan mampu melakukan deteksi dini sekaligus menghapus stigma terhadap penderita TBC,” terangnya.

Program ini menyasar aspek kuratif sekaligus partisipatif karena masyarakat diajak aktif dalam setiap proses, mulai dari deteksi hingga dukungan pengobatan.

Sarip Hidayat meminta tim ini rutin menjalankan sejumlah fungsi utama, seperti penyuluhan dan edukasi masyarakat tentang TBC, penemuan kasus aktif dengan kunjungan rumah, pendampingan pengobatan hingga tuntas, pemantauan lingkungan dan peningkatan kualitas sanitasi. (SN/01)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *