Sumbawa, SelarasNews.id – Kasus perundungan atau bullying kembali terjadi di Kabupaten Sumbawa. Kali ini menimpa seorang siswi SMP di Kecamatan Plampang pada Selasa, (02/12). Video kejadian tersebut viral di media sosial dan memicu perhatian publik.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Sumbawa, Junaedi, melalui Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan, DP2KBP3A Kabupaten Sumbawa,Tati Haryati, S.Psi., M.M.Inov, menjelaskan bahwa tim dari UPT Perlindungan Anak bersama Polres Sumbawa dan Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa telah turun langsung melakukan pendampingan.
Baca juga : Mesin Rusak dan Terombang-ambing Berhari-hari, Kapal Asal Jember Ditemukan Karam di Pantai Semara Sumbawa
“Kami sangat menyayangkan mengapa anak-anak kita, terutama para remaja putri, masih kurang memiliki toleransi terhadap temannya. Informasi awal menunjukkan kejadian ini bermula dari saling ejek di grup WhatsApp,” ungkapnya.
Tati menerangkan, bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk-verbal, fisik, psikis, sosial, seksual, maupun siber. Dalam kasus ini, kata dia, persoalan bermula dari siber bullying dan bullying verbal antar teman di dalam grup WA. Ketika bertemu, perselisihan itu berlanjut hingga terjadi aksi saling pukul.

“Jadi bukan hanya yang sakit itu yang dipukul, tapi dia juga memukul. Jadi, sama-sama, kalau sama-sama mereka saling memukul artinya tidak ada korban tidak ada pelaku karena dua-duanya menjadi korban dan dua-duanya menjadi pelaku kekerasan,” jelasnya.
“Walaupun yang satunya kemudian dibawa ke rumah sakit karena satu seminggu sebelumnya dia sebenarnya sakit dan waktu dia pergi itu baru masuk sekolah kemudian kejadian itu terjadi,”tambahnya.
Baca juga : Wujudkan Pendidikan Berkualitas, Pemda Sumbawa Ajukan Pembangunan Sekolah Garuda
Menurutnya, DP2KBP3A Kabupaten Sumbawa sebenarnya berharap masalah ini dapat diselesaikan secara damai. Namun jika salah satu pihak melapor, pihaknya siap melakukan pendampingan.
“Yang penting kami diberitahu saja, kapan mereka akan melaporkan, kapan uji TKP, kami siap untuk mendampingi. Karena sebagian besar dari korban-korban yang melaporkan atas kekerasan yang didapatkan entah itu perempuan ataupun anak-anak, kami dampingi penting ada pemberitahuan,”ujarnya.
Soal efek jera, Ia menilai pendekatan pembinaan tetap menjadi pilihan utama.

“Kami berharap dilakukan pembinaan, karena bagaimanapun anak-anak belum dewasa, cara berpikirnya belum matang seperti orang-orang dewasa dan anak-anak juga masih dalam proses pertumbuhan perkembangan bagaimana dari setiap apa yang dia lakukan dia alami bisa mengambil pelajaran untuk jauh lebih bijak dan dewasa. Apalagi mereka teman,” harapannya.
Ke depan, ia menekankan pentingnya peran guru, orang tua, dan lembaga terkait dalam mendampingi anak agar karakter mereka lebih kuat.
Baca juga : Miliki Tahan Pertanian Sangat Luas, Sumbawa Terus Wujudkan Swasembada Pangan
Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali falsafah Tau Samawa “Ketakit ko Nene, Kangila Boat Lenge” sebagai landasan moral agar anak-anak tidak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain.
“Harapannya nilai-nilai saling satingi, sakiki, pedi dapat diinternalisasi sehingga anak lebih toleran dan tidak mudah tersulut emosi,” harap Tati. (SN/01)

