Sumbawa, SelarasNews.id – Upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat terus dilakukan dan lebih dimaksimalkan dengan berbagai intervensi kebijakan. Hal ini diharapkan mampu mencapai target penurunan stunting sebesar 21,7 persen.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Sumbawa cukup tinggi, pada tahun 2025 SSGI menunjukkan prevalensi stunting sebesar 29,8 persen meningkat 5,2 persen. Karena itu target penurunan tahun 2026 mendatang sebesar 21,7 persen.
Baca juga : Percepat Penurunan Stunting, Bappeda Gelar Sumbawa Gelar Rapat Evaluasi TPPS
Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo, yang ditemui wartawan di ruang kerjanya pada Rabu, (10/12) mengatakan anak stunting mengalami gangguan pertumbuhan otak yang menyebabkan kemampuan kognitif, belajar, dan konsentrasi menurun.

“Akibatnya, prestasi akademik anak lebih rendah dan saat dewasa berpotensi memiliki produktivitas kerja yang lebih rendah,” tambahnya.
Jika prevalensi stunting tetap tinggi, maka Kabupaten Sumbawa akan kesulitan mencetak generasi unggul dan inovatif yang dibutuhkan untuk menuju Generasi Emas 2045.
Baca juga : Turunkan Angka Stunting Perlu Komitmen Bersama dan Kolaborasi Semua Sektor
“Selain itu, anak yang stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes dan hipertensi. Kondisi ini meningkatkan beban biaya kesehatan keluarga dan daerah,” ungkapnya.
Stunting berkorelasi dengan kemiskinan antargenerasi, keluarga miskin lebih rentan memiliki anak stunting dan anak stunting cenderung memiliki masa depan ekonomi lebih sulit.

“Stunting ini dipengaruhi berbagai faktor seperti akses pangan bergizi yang belum merata, terutama di daerah kepulauan dan terpencil. Selain itu pola asuh dan pengetahuan gizi ibu yang masih perlu ditingkatkan, sanitasi dan air bersih serta akses layanan kesehatan termasuk posyandu dan puskesmas,” terangnya.
Salah satu program penanganan stunting yang dilaksanakan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sumbawa yakni program Quick wins. Program Quick Wins Stunting menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting terutama sebagai bagian dari implementasi aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di daerah.
Baca juga : Junaedi: Tangani Stunting Perlu Kerjasama dan Gotong Royong Semua Pihak
“Dalam penerapan program ini perlu kerjasama semua pihak mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Karena sama-sama berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa agar mampu meningkatkan kualitas hidup secara mandiri, terutama dalam bidang kesehatan, gizi dan kesejahteraan keluarga,” jelasnya.
Upaya penurunan stunting di Sumbawa tidak hanya dilakukan melalui pemberian makanan bergizi, tetapi juga melalui pendekatan menyeluruh, termasuk perbaikan sanitasi, edukasi pola asuh, dan pengendalian penyakit infeksi.

“Stunting bukan hanya karena anak kurang makan bergizi, tetapi juga karena sering sakit, seperti diare, cacingan, dan TBC. Jadi intervensi kita melalui semua sektor tidak bisa parsial,” ujarnya.
Dedi Heriwibowo menegaskan Pemda Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa secara berkelanjutan melaksanakan edukasi gizi dan kesehatan lingkungan kepada masyarakat, terutama keluarga dengan balita. Program ini menekankan pentingnya air bersih, sanitasi sehat, dan pola makan seimbang.
Baca juga : Stunting Terjadi Bukan Hanya Karena Kurang Gizi
“Salah satu fokus kami adalah penguatan posyandu agar mampu melakukan deteksi dini dan intervensi cepat bagi anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Dengan pemantauan rutin setiap bulan, anak yang berat badannya tidak naik bisa segera mendapatkan tindak lanjut dari petugas kesehatan,” bebernya.
Selain memperkuat layanan di lapangan, juga perlu memperluas sosialisasi tentang pola pengasuhan anak yang positif. Karena pola asuh yang terlalu keras, sering melarang anak, atau kurang kasih sayang juga dapat memengaruhi tumbuh kembang dan kepercayaan diri anak.
“Anak harus diasuh dengan kasih sayang, jangan sering dilarang atau dimarahi. Pola pengasuhan seperti ini juga bagian penting dalam pencegahan stunting,” sambungnya.

Ia menilai ketersediaan gizi di Sumbawa sebenarnya cukup baik, mengingat potensi sumber protein hewani seperti ikan dan daging yang melimpah. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan cara mengolah makanan agar gizinya tetap optimal.
“Kita di Sumbawa tidak kekurangan protein hewani. Masalahnya lebih ke perilaku dan kebersihan. Kalau makanannya bergizi tapi tidak sejalan dengan pola asuh dan kebiasaan hidup, hasilnya tetap tidak maksimal,” tutupnya. (SN/01)

