Harga Kopi Melambung, Pengusaha Kopi Tepal Bidik Perputaran Modal Hingga 6,5 Miliar Rupiah

Harga Kopi Melambung, Pengusaha Kopi Tepal Bidik Perputaran Modal Hingga 6,5 Miliar Rupiah

Sunbawa, SelarasNews.id – Harga kopi mentah di wilayah Sumbawa saat ini mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh angka 65.000 Rupiah per kilogram. Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingginya omzet dan kebutuhan perputaran modal para pengusaha kopi, termasuk pelaku usaha kopi di wilayah Tepal.

Haris Nasution, salah seorang Pengusaha Kopi Tepal Sumbawa, mengatakan tingginya harga kopi saat ini berbanding lurus dengan potensi omzet yang dihasilkan.

Baca juga : Rakor KONI Sumbawa Bahas Program Kerja 2026 dan Persiapan Jelang Porprov NTB

“Kalau kopi untuk sementara ini memang tinggi omzetnya karena harganya tinggi. Harga kopi per hari ini 65.000 Rupiah per kilo,” ujarnya saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Menurut Haris, pasokan kopi yang Ia kelola berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumbawa. Salah satu daerah pemasok terbesar berada di Kecamatan Batulanteh yang meliputi wilayah Tepal, Batu Rotok, Tangkam Pulit, hingga Bao Desa. Selain itu, pasokan juga datang dari wilayah Mate Mega serta kawasan Ropang, Lawin, dan Labangkar.

Jumlah kopi yang masuk setiap bulan bersifat fluktuatif, tergantung intensitas arus barang. Namun, dalam kondisi tertentu, volume kopi yang diperdagangkan bisa mencapai 50 hingga 100 ton per bulan.

“Kalau per bulan, kemungkinan bisa sampai di angka 100 ton, atau dari 50 sampai 100 ton. Tinggal dikalikan saja. Kalau 65.000 Rupiah dikali 100 ton, berarti Rp6,5 miliar,” jelasnya.

Baca juga : Meningkat, DP2KBP3A Sumbawa Berupaya Tekan Angka Penikahan Anak

Ia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan gambaran omzet sekaligus kebutuhan perputaran modal untuk pembelian kopi mentah. Dengan asumsi transaksi 100 ton dalam satu bulan, modal yang dibutuhkan mencapai 6,5 Miliar Rupiah. Sementara jika volume berada di angka 50 ton, kebutuhan modal berkisar 3,25 Miliar Rupiah.

“Itu belum termasuk omzet. Karena modal yang dibutuhkan untuk membelanjakan kopi senilai 100 ton dalam satu bulan sekitar 6,5 Miliar Rupiah, sementara jika kopinya 50 ton, berarti dibagi dua,” tambahnya.

Haris juga menjelaskan bahwa kopi yang diperdagangkan masih berupa biji mentah atau green bean, yakni biji kopi yang telah dijemur dan digiling namun belum masuk ke tahap pengolahan lanjutan. Ia menegaskan posisinya yang lebih banyak bergerak di sektor hulu, mulai dari pengelolaan kebun hingga distribusi bahan mentah.

Dengan kondisi harga kopi yang masih tinggi, Haris melihat peluang usaha kopi di wilayah Tepal dan sekitarnya masih sangat menjanjikan, meski membutuhkan modal besar untuk menjaga kelancaran arus perdagangan. (SN/PKL-02)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *