Sumbawa, SelarasNews.id – Pemerintah terus mendorong optimalisasi sektor peternakan di Kabupaten Sumbawa sebagai bagian dari upaya mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus pengembangan diarahkan pada peternakan terintegrasi, khususnya komoditas daging ayam dan telur ayam, guna menjaga swasembada pangan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kabupaten Sumbawa dinilai memiliki potensi besar di sektor peternakan, baik dari sisi ketersediaan lahan, bahan baku pakan maupun pengalaman peternak. Namun demikian, untuk komoditas unggas, daerah ini masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah. Kondisi tersebut mendorong pemerintah pusat bersama DPR RI untuk menghadirkan solusi melalui program peternakan terintegrasi.
Baca juga : Program PKG Bantu Permudah Temuan Berbagai Penyakit di Sumbawa
Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, yang ditemui media ini pada Jumat, (06/02) lalu mengatakan bahwa pengembangan peternakan terintegrasi menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan Program MBG, terutama di wilayah Nusa Tenggara Barat.
“Saat ini sektor peternakan terus kita dorong agar terintegrasi, khususnya untuk produksi daging ayam dan telur ayam. Ini penting agar daerah tetap swasembada pangan dan mampu memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis serta kebutuhan masyarakat,” kata Johan Rosihan.
Ia menjelaskan, pada tahap awal pembangunan peternakan terintegrasi di Nusa Tenggara Barat akan dilakukan di tiga lokasi. Lokasi pertama berada di UPT BPTHMT Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, dengan luas lahan sekitar 10 hektare.
Baca juga : Tren Kasus DBD Per Januari di Sumbawa Menurun Drastis
“Titik pertama berada di UPT BPTHMT Serading, Kecamatan Moyo Hilir, dengan luas lahan kurang lebih 10 hektare. Lokasi ini dipersiapkan sebagai pusat pengembangan peternakan terintegrasi,” ujarnya.
Sementara itu, titik kedua berlokasi di lahan eks Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa yang berada di Kecamatan Lopok dengan luas sekitar 9 hektare. Adapun titik ketiga berada di Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, dengan luas lahan mencapai 10 hektare.
Menurut Johan, pengembangan peternakan terintegrasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada hilirisasi sektor peternakan agar hasil produksi dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Baca juga : Kunjungan Museum Sumbawa Terus Meningkat Setiap Tahunnya
“Kami dari Komisi IV DPR RI terus mengencarkan program hilirisasi peternakan terintegrasi, termasuk optimalisasi lahan, agar produksi tetap berjalan secara berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Secara nasional, melalui program peternakan terintegrasi ini ditargetkan produksi daging ayam mencapai sekitar 1,2 miliar ekor atau setara dengan 1,5 juta ton per tahun. Selain itu, populasi ayam petelur ditargetkan mencapai 55 juta ekor dengan total produksi telur sekitar 1 juta ton.
Seiring dengan itu, jumlah penerima manfaat Program MBG secara nasional tercatat mencapai 82,9 juta orang. Untuk memenuhi kebutuhan program tersebut, diperlukan pasokan daging ayam sekitar 1,1 juta ton dan telur ayam sekitar 0,7 juta ton.
Baca juga : Wakil Bupati Sumbawa, Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Desa Batu Bulan
Johan Rosihan menegaskan bahwa optimalisasi peternakan ini akan dilakukan melalui pembangunan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan masyarakat. Dengan adanya Program MBG, diharapkan roda perekonomian masyarakat dapat terus bergerak melalui terbukanya peluang usaha dan lapangan kerja baru.
“Dengan keberadaan Program MBG, peluang ekonomi masyarakat akan semakin terbuka. Lapangan kerja tercipta, usaha peternakan berkembang, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” tegasnya.
Di sisi lain, Kabupaten Sumbawa diketahui memiliki lahan pertanian yang sangat luas serta populasi ternak sapi, kerbau, dan kuda terbanyak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Setiap tahunnya, daerah ini juga mampu mencapai swasembada untuk komoditas ternak besar tersebut.
Baca juga : DKP Sumbawa, Pastikan Keamanan Pangan Program MBG
Namun demikian, untuk komoditas daging ayam dan telur ayam, Kabupaten Sumbawa masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Padahal, para peternak di Pulau Sumbawa telah memiliki pengalaman panjang dalam beternak.
“Peternak kita sebenarnya sudah sangat berpengalaman. Namun, selama ini mereka masih terkendala keterbatasan akses terhadap bibit unggul dan pakan ternak,” ungkap Johan.
Baca juga : Guru di Sumbawa Belum Terima Program MBG
Melalui program peternakan terintegrasi ini, pemerintah pusat diharapkan dapat hadir untuk menyelesaikan persoalan yang belum mampu diselesaikan sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
“Negara hadir melalui program ini untuk membantu daerah, khususnya dalam penyediaan bibit unggul, pakan ternak, serta sarana pendukung lainnya, sehingga sektor peternakan di daerah dapat berkembang secara optimal,” tutup Johan Rosihan. (SN/PKL-06)

