Silabus Kebudayaan Samawa, Jadi Alternatif Pengenalan Budaya Lokal Pada Siswa

Silabus Kebudayaan Samawa, Jadi Alternatif Pengenalan Budaya Lokal Pada Siswa

Sumbawa, SelarasNews.id – Satuan pendidikan kini tengah menggalakkan gerakan kembali ke akar budaya dengan menjadikan kebudayaan dalam pembelajaran intrakurikuler yang dijadikan dalam bentuk Silabus atau bahan ajar.

Adapun bentuk kebudayaan yang dijadikan Silabus atau bahan ajar adalah seni tari, tradisi lisan, hingga permainan rakyat. “Langkah ini diambil sebagai strategi edukasi untuk memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah gempuran tren digital,” Kepala SDN Batu Nisung, Wiwin Andriani Ningsih.

Dalam upaya tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi pusat pelestarian identitas daerah.

Baca juga : Tatap Satu Tahun ke Depan, Kabid GTK Sumbawa Matangkan Strategi Penggaran Sekolah

Dalam hal itu, yang menjadi kendala ada sebelum penyusunan silabus atau bahan ajar, para guru diberikan pembekalan langsung oleh praktisi seni dan budayawan terkait teknik dasar tari daerah, teknik bercerita dalam tradisi lisan, hingga aturan permainan rakyat.

“Dengan tindakan itu, guru akan mampu menerapkan materi tersebut, baik dalam mata pelajaran seni budaya, muatan lokal, maupun sebagai bagian dari proyek penguatan profil pelajar,” jelasnya saat ditemui media ini pada Selasa, (10/02).

Setelah guru sudah menguasai budaya daerah, maka semangat itu akan menular secara alami kepada siswa di sekolah. Walaupun kegiatan tersebut tidak termasuk dalam kurikulum nasional namun struktur tersebut masuk dalam kehidupan.

Baca juga : Disnakeswan Sumbawa Pastikan Vaksin PMK Aman dan Tersedia

Implementasi nilai-nilai budaya lokal dalam dunia pendidikan terus diperkuat melalui materi pembelajaran dan kegiatan kesiswaan.

“Namun, karena keterbatasan waktu yang hanya tersedia dua jam per minggu, sudah tentu perkuat lagi pemahaman budaya siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler pada sore hari serta program khusus bertajuk Sabtu Budaya,” terangnya.

Selain itu, minimnya Tenaga Ahli Budaya di sekolah menjadi kesulitan menemukan pelatih internal untuk kesenian spesifik, seperti pelatih alat musik dan lainnya.

“Akibatnya, kami harus mendatangkan ahli dari luar. Ditambah lagi keterbatasan Dana BOS, untuk biaya mendatangkan tenaga ahli seringkali tidak terakomodasi,” tutupnya. (SN/PKL-03)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *