Penulis : Usman, S. Pd. SD., M. M. Inov
(Kepala SDN Baodesa dan SMPN 6 Satap Batu Lanteh)
(waka 1 PGRI Cabang Batu Lanteh)
Ramadan merupakan bulan yang ke 9 dari 12 bulan tahun Hijriah, pada Ramadan tahun 1447 H /2026M ini, bagi umat Islam kehadirannya menjadi suatu yang sangat di tunggu-tunggu karena begitu banyak keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadan.
Diantara keistimewaan bulan suci Ramadan adalah:
1. Beribadah pada bulan Ramadhan memiliki pahala yang berlipat ganda;
2. Pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka di tutup;
3. Terdapat satu malam yang di sebut malam Lailatul qadar, ketika beribadah pada malam itu nilainya lebih baik beribadah dari seribu bulan;
4. Pada bulan Ramadhan umat islam di wajibkan untuk berpuasa;
5. Membaca dan mengkhatam Al-Quran;
6. Ibadah qiyamullail (sholat taraweh).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini kita tengah berada pada fase di mana arus digitalisasi begitu deras. Teknologi ada di genggaman kita 24 jam sehari. Kemajuan ini tentu menjadi peluang besar. Era digital menuntut kita untuk menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, dan adaptif.
Kita tidak boleh menjadi penonton atau pengguna pasif, namun kita harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperoleh ilmu, menciptakan inovasi serta meningkatkan produktifitas. Namun di balik kemudahan itu terdapat tantangan besar yang mengintai.
Digitalisasi membawa dampak ganda baik positif maupun negatif. Media sosial, game online, judi online, ketergantungan, hingga berita hoax yang menjadi tantangan sekaligus godaan terbesar. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis, integritas, dan disiplin diri sangatlah penting. Kita harus bijak memilah informasi dan tidak mudah terpengaruh hoaks.
Oleh karena itu, Ramadhan bukan hanya momen menahan lapar, dan dahaga, melainkan momentum yang tepat untuk kita memperbaiki, memperkuat karakter di dunia digital kekinian (digital character building).
Ada tiga karakter utama yang bisa kita perkuat melalui puasa di era digital ini diantaranya:
1. Karakter integritas digital, puasa mengajarkan kita untuk senantiasa jujur. Kita bisa saja makan secara sembunyi atau di tempat yang sepi, namun kita tidak melakukannya karena merasa diawasi Allah SWT. Di era digital ini sejalan dengan menjaga mata dan jari kita, meskipun tidak ada orang melihat, puasa mendidik kita untuk tidak menyebarkan hoaks, tidak menonton konten maksiat;
2. Karakter Sabar dan pengendalian diri (Self control), derasnya informasi di era digital sering membuat kita impulsif, konsumtif belanja online. Kehadiran Ramdhan mengajarkan kita untuk sabar, mengendalikan hawa nafsu, momentum ini harus kita gunakan untuk membatasi waktu screen time, mengurangi scrolling media sosial yang sia-sia dan menggantikannya dengan tadarus, perbanyak zikir, dan kajian online;
3. Karakter Empati dan Kepedulian sosial, di ra digital empati bisa diwujudkan dengan menggunakan teknologi untuk berbagi, gunakan platform digital untuk berdonasi, serta menyebarkan konten dakwah yang menyejukkan. Puasa lebih mendekatkan diri kita pada Allah SWT, Kalau kita bisa memanfaatkan puasa untuk introspeksi diri, memperbaiki akhlak dan meningkatkan ibadah maka kita bisa memperoleh predikat takwa sebagaimana dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 dinyatakan bahwa “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Dalam hal taqwa, Rasulullah SAW bersabda bahwa, Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka,ab lalu kemudian Ubay bin Ka,ab bertanya balik ya Umar: Apakah kamu pernah melewati jalan yang berduri?
Ya,… jawab Umar lalu kemudian bertanya lagi : Bagaimana sikapmu? “Aku berhati-hati dan cermat agar tidak terkena duri,” lalu Ubay berkata : itulah taqwa! . Maka di era digitalisasi ini kita perlu memperkuat karakter kita terutama memperdalam ilmu-ilmu agama sehingga kita memperoleh predikat takwa karena orang yang bertaqwa akan selalu berhati-hati baik dalam ucapan, sikap maupun tindakan.

