Sumbawa, SelarasNews.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa mengakui masih mengalami keterbatasan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang menjadi standar utama dalam penegakan diagnosis tuberkulosis (TBC). Padahal, keberadaan TCM sangat krusial dalam mendukung target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, SKM., MPH, yang ditemui media ini pada Rabu, (21/01) mengatakan bahwa dalam rangka mendukung eliminasi TBC, Kabupaten Sumbawa ditargetkan mampu menemukan 1.538 kasus TBC pada tahun 2026.
Baca juga : Kurangi Volume Sampah Masuk ke TPA, Puluhan TPS3R Mangkrak Akan Diaktifkan Kembali
“Target temuan kasus TBC kita di tahun 2026 itu sebanyak 1.538 kasus. Namun sebelum menemukan kasus tersebut, kita wajib melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang terduga TBC,” ujar Sarip.
Ia menjelaskan, pemeriksaan terhadap kelompok terduga TBC tersebut masuk dalam target Standar Pelayanan Minimal (SPM), dengan jumlah sasaran pemeriksaan mencapai 7.474 orang. Namun, capaian pemeriksaan hingga saat ini masih belum optimal.
“Pada tahun 2025, kita baru bisa melakukan pemeriksaan terhadap 4.678 orang terduga TBC. Dari jumlah itu, sekitar 61 persen dinyatakan positif,” jelasnya.
Baca juga : Wujudkan Swasembada Pangan, Sumbawa Akan Cetak 2.500 Hektare Sawah Baru
Menurutnya, tingginya persentase hasil positif menunjukkan masih banyak kasus TBC yang belum terdeteksi, sehingga pemeriksaan harus terus digencarkan. Pemeriksaan paling akurat, kata dia, adalah dengan menggunakan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Pemeriksaan terbaik untuk TBC itu menggunakan TCM. Sayangnya, di Kabupaten Sumbawa alat TCM kita masih sangat terbatas,” katanya.
Saat ini, alat TCM di Kabupaten Sumbawa baru tersedia di empat fasilitas kesehatan, yakni RS Manambai, RSUD Sumbawa, Puskesmas Unit I, dan Puskesmas Utan. Kondisi tersebut menyebabkan puskesmas lain harus mengirimkan sampel dahak pasien ke fasilitas yang memiliki TCM.
Baca juga : Meski Sumbawa Musim Hujan, Stok Pangan Masih Aman dan Harga Bahan Pokok Masih Stabil
“Artinya, puskesmas yang tidak memiliki TCM harus mengirim sampel ke lokasi yang tersedia. Ini tentu memerlukan waktu dan berdampak pada kecepatan penegakan diagnosis,” ujarnya.
Syarif Hidayat menegaskan, TCM sangat penting karena mampu mendeteksi TBC secara lebih detail, termasuk mengetahui adanya resistensi obat pada pasien.
“TCM ini alatnya sangat sensitif dan detail. Kalau ada pasien TBC yang resisten obat, itu bisa langsung terbaca. Karena itulah TCM dijadikan gold standard pemeriksaan TBC,” tegasnya.
Baca juga : 289 Calon Jemaah Haji Sumbawa Lunasi BPIH
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berencana menambah alat TCM pada tahun 2026. Namun, pengadaannya masih sangat terbatas karena tingginya biaya.
“Tahun 2026 kita rencanakan pengadaan satu unit alat TCM yang akan ditempatkan di Puskesmas Plampang. Satu alat itu harganya kurang lebih Rp700 juta,” ungkapnya.
Baca juga : Pawai Budaya Sumbawa, Tampilkan Aneka Budaya dan Kesenian Daerah
Selain itu, pada tahun ini juga direncanakan adanya tambahan alat TCM dari pemerintah pusat yang diperkirakan terealisasi pada triwulan II atau III.
Ke depan, Dinas Kesehatan berharap alat TCM dapat ditempatkan secara zonasi di sejumlah wilayah yang jaraknya cukup jauh dari pusat layanan kesehatan, seperti Empang dan Plampang, agar penanggulangan TBC di Kabupaten Sumbawa dapat berjalan lebih cepat dan efektif. (SN/PKL-08)

