Sumbawa, SelarasNews.id – Museum Daerah Kabupaten Sumbawa mencatatkan tren positif dalam angka kunjungan wisatawan, khususnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Peningkatan ini disebut tidak terlepas dari berbagai program inovatif yang digulirkan untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda.
Kepala Museum Sumbawa, Ivonie Septiyanti, yang ditemui media ini di ruang kerjanya pada Kamis, (05/02) mengungkapkan animo masyarakat, terutama institusi pendidikan, terus menunjukkan grafik kenaikan yang signifikan dari tahun ke tahun. “Berdasarkan data dari tahun ke tahun jumlah pengunjung terus meningkat pada tahun 2024 lalu mencapai angka 8.000 orang, dan melonjak drastis hingga menyentuh angka 12.000 di tahun 2025,” terangnya.
Baca juga : Wakil Bupati Sumbawa, Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Desa Batu Bulan
Menurut Ivonie sapaan akrab Kepala Museum Sumbawa, salah satu faktor utama di balik tingginya antusiasme pelajar adalah adanya program Sabtu Budaya. Program itu, menjadi pintu masuk bagi para siswa untuk mengenal lebih dalam kekayaan sejarah di tanah Samawa.

“Awalnya karena ada program Sabtu Budaya itu. Selain itu, kami juga aktif bersurat ke sekolah-sekolah dan melakukan sosialisasi melalui program Museum Goes to School,” ujar Ivonie.
Meski kunjungan didominasi oleh kalangan pelajar yang rata-rata mencapai ratusan orang per hari, Ivonie mengakui bahwa tingkat kunjungan dari masyarakat umum masih perlu ditingkatkan lagi ke depannya.
Baca juga : Belajar Sejarah Secara Langsung, Siswa SDN Mata Tarano Kunjungi Museum Sumbawa
Saat ini, Museum Sumbawa mengelola sebanyak 507 koleksi benda bersejarah. Koleksi tersebut mencakup berbagai kategori, mulai dari historika (benda bernilai sejarah), etnografi (benda budaya), hingga arkeologi seperti kapak batu dari zaman prasejarah. Salah satu koleksi unggulan yang sering menjadi perhatian adalah mimbar asli dari Masjid Jami’ yang memiliki nilai historis tinggi.
Namun, Ivonie mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi pihak museum saat ini, yakni keterbatasan sarana prasarana. Dari ratusan koleksi yang dimiliki, hanya sebagian kecil yang dapat dipamerkan kepada publik.

“Ruang pamer kita masih kurang, termasuk jumlah lemari kaca pameran yang terbatas,” jelasnya. Selain itu, kondisi fisik gedung yang merupakan bangunan tua juga mulai mengalami kerusakan, seperti kebocoran di beberapa titik saat hujan turun.
Menyikapi kondisi bangunan yang kurang memadai, Ivonie berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk menyediakan lokasi museum yang lebih representatif. Menurutnya, museum membutuhkan gedung yang lebih kokoh dan luas agar seluruh koleksi dapat terjaga dan ditampilkan dengan maksimal kepada masyarakat luas.
Baca juga : Dikbud Sumbawa, Jaga Tradisi dan Budaya Lokal Melalui Digitalisasi
Terkait dukungan pemerintah, Ivonie menyebutkan bahwa aspek penganggaran mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap. “Kalau awal-awal saya di sini memang anggarannya kurang, tapi lama-kelamaan ada kenaikan sedikit demi sedikit,” tutup Ivonie. (SN/PKL-02)

