Disnakeswan Sumbawa Sarankan Peternak Secara Perlahan Beralih ke Intensif

Disnakeswan Sumbawa Sarankan Peternak Secara Perlahan Beralih ke Intensif

Sumbawa, SelarasNews.id – Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi ternak terbesar, khususnya sapi dan kerbau yang jumlahnya mencapai 400.000 ekor. Karena itu para peternak didorong mulai mempertimbangkan peralihan sistem pemeliharaan dari ekstensif ke semi intensif, bahkan intensif.

“Dengan sistem semi intensif, ternak tetap dapat digembalakan namun dalam area yang lebih terkendali atau dibuatkan kandang dan pagar kecil (range) agar mudah diawasi. Langkah ini penting untuk memastikan kebutuhan pakan, air minum, serta kesehatan ternak tetap terjaga,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa, Saifuddin, melalui Kabid Keswan Disnakeswan Kabupaten Sumbawa, drh. Rini Handayani.

Baca juga : Abdul Rafiq Turut Prihatin Atas Insiden Kekerasan Antar Oknum Pelajar di Brang Biji

Sistem intensif juga memungkinkan pemanfaatan limbah atau sisa hasil pertanian sebagai pakan ternak. “Peternak juga kami sarankan untuk menyiapkan gudang pakan untuk menyimpan cadangan hijauan saat musim hujan yang melimpah, sehingga dapat digunakan kembali pada musim kemarau ketika pakan mulai terbatas,” jelasnya saat ditemui media ini di ruang kerjanya pada Jumat, (13/02).

Dengan meningkatnya alih fungsi lahan menjadi pertanian, pola pemeliharaan ternak di Sumbawa perlu menyesuaikan kondisi yang ada. “Melalui perhatian lebih terhadap kesehatan, pengelolaan pakan yang baik, serta perbaikan sistem pemeliharaan, diharapkan populasi ternak yang besar di Sumbawa tetap sehat, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat,” sambungnya.

Selain itu,Memasuki musim pancaroba dari kemarau ke musim hujan yang berlangsung cukup panjang hingga menyebabkan banjir di beberapa wilayah, para peternak diimbau untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap kesehatan ternak mereka.

Perubahan cuaca yang ekstrem berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada ternak. “Kondisi rumput yang masih muda dan basah akibat embun maupun hujan dapat memicu gangguan pencernaan seperti kembung pada sapi dan kerbau. Kasus kembung umumnya meningkat saat musim hujan karena tingginya kadar air pada pakan hijauan yang dikonsumsi ternak,” jelasnya.

Baca juga : Maret Mendatang, 56 SPPG 3T di Sumbawa Ditargetkan Mulai Beroperasi

Selain itu, pada musim hujan lahan penggembalaan sering kali menyempit karena banyak area pertanian yang dipagari, terutama lahan jagung. “Hal ini menyebabkan ternak kesulitan mendapatkan pakan yang cukup dan berkualitas. Oleh karena itu, peternak diharapkan tetap memantau kondisi ternak meskipun sistem pemeliharaan yang diterapkan masih bersifat LAR atau dilepas liar,” terangnya.

Peternak juga dianjurkan untuk memanfaatkan bahan-bahan herbal dan obat tradisional yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai upaya meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh ternak. “Penggunaan jamu atau ramuan alami dapat menjadi alternatif untuk menjaga kesehatan ternak tanpa ketergantungan pada bahan kimia,” tutupnya. (SN/PKL-07)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *