Mahasiswa KKL UNSA Kelompok 12 Promosikan Keunikan Situs Batu Rantok Desa Sebasang Moyo Hulu

Mahasiswa KKL UNSA Kelompok 12 Promosikan Keunikan Situs Batu Rantok Desa Sebasang Moyo Hulu

Sumbawa, SelarasNews.id – Dalam upaya mengoptimalkan potensi pariwisata berbasis sejarah dan cagar budaya di wilayah pedesaan, Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Universitas Samawa (UNSA) Kelompok 12 menggelar kegiatan observasi, dokumentasi, dan riset lapangan di Situs Batu Rantok, Desa Sebasang, Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB). Inisiatif itu, dikemas dalam bentuk program kerja strategis yang bertujuan untuk mempromosikan serta mempublikasikan keberadaan objek wisata sejarah lokal tersebut ke tingkat yang lebih luas.

Situs Batu Rantok merupakan salah satu aset warisan budaya berharga di Kabupaten Sumbawa yang menyimpan nilai-nilai peradaban prasejarah. Guna memastikan akurasi data historis yang dihimpun, tim mahasiswa KKL UNSA mendatangi lokasi secara langsung dan berdiskusi intensif dengan Abdurrahman, Juru Pelihara (Jupel) setempat yang telah mendedikasikan dirinya untuk menjaga dan merawat situs bersejarah ini sejak tahun 2000.

Baca juga : Tiga Jembatan Armco Rampung, Kodim 1607/Sumbawa Perkuat Akses dan Konektivitas Masyarakat

Berdasarkan kajian para ahli arkeologi serta penuturan dari penjaga situs, Situs Batu Rantok diperkirakan telah berdiri sejak kurang lebih 3.000 tahun yang lalu. Peninggalan ini berasal dari era peradaban megalitikum. Sebuah masa di mana masyarakat purba belum mengenal agama modern dan masih menganut sistem kepercayaan animisme serta dinamisme

“Situs Batu Rantok ini diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun dan dulunya merupakan tempat pemakaman pada zaman manusia masih menyembah batu atau pohon besar,” ujar Bapak Abdurrahman saat memberikan penjelasan mengenai asal-usul situs tersebut.

Selain latar belakang sejarahnya, penamaan lokasi ini juga memiliki keunikan tersendiri. Masyarakat setempat secara turun-temurun mengenalnya dengan sebutan Batu Rantok atau Batu Rantau. Penamaan tersebut didasarkan pada karakteristik dan bentuk fisik batunya yang memiliki kemiripan visual dengan rantok, yaitu alat penumbuk padi tradisional yang kerap digunakan oleh warga lokal Sumbawa pada zaman dahulu.

Baca juga : Unit Reskrim dan Piket Polsek Empang Amankan Terduga Pelaku Pencurian Ternak

Berbeda dari umumnya situs bersejarah di Indonesia yang sering kali diselimuti oleh mitos mistis, kisah gaib, atau legenda rakyat tertentu, Situs Batu Rantok memiliki keunikan tersendiri. Keberadaan dan fungsi situs ini murni bertumpu pada bukti fisik arkeologis serta penafsiran ilmiah para peneliti.

“Cerita legenda dari orang tua dulu sebenarnya tidak ada. Jadi informasi fungsi situs ini murni berdasarkan penelitian para arkeolog,” jelas Abdurrahman.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kondisi lingkungan serta wujud fisik dari peninggalan Batu Rantok relatif konsisten dan tidak mengalami banyak perubahan dari zaman ke zaman. Perbedaan mendasar yang terasa saat ini adalah peningkatan perhatian dari pemerintah dan masyarakat, di mana lokasi yang berada di kawasan Desa Sebasang tersebut kini telah diresmikan dan dilindungi sebagai situs cagar budaya.

Sementara itu, Ketua Kelompok 12 KKL UNSA 2026, Ranga Rizkullah Ar Rafif, mengungkapkan Ia bersama rekan-rekannya melihat potensi besar yang dimiliki oleh Situs Batu Rantok, sehingga menjadikan penelusuran sejarah tersebut sebagai pijakan utama dalam merealisasikan program kerja promosi desa. Informasi dan data yang diperoleh dari narasumber diolah menjadi materi publikasi digital, artikel berita, hingga konten edukatif berbasis media sosial guna menjangkau khalayak yang lebih luas, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Langkah kolaboratif antara juru pelihara dan mahasiswa KKL UNSA ini diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Kecamatan Moyo Hulu, tetapi juga menarik minat para peneliti, akademisi, dan pecinta sejarah untuk berkunjung langsung. Melalui promosi yang konsisten dan berkelanjutan, Desa Sebasang optimistis dapat memposisikan dirinya sebagai salah satu destinasi wisata edukasi dan sejarah unggulan di Kabupaten Sumbawa. (SN/01)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *