Dampak El Nino Mulai Dirasakan oleh Petani Lape Sumbawa, Puluhan Hektar Lahan  Kekeringan dan Padi Mengalami Puso

Dampak El Nino Mulai Dirasakan oleh Petani Lape Sumbawa, Puluhan Hektar Lahan  Kekeringan dan Padi Mengalami Puso

Oleh : Heri Kunasyadi, MP. (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Samawa)

Ancaman nyata perubahan iklim global kini bukan lagi sekadar prediksi dari BMKG. Fenomena El Nino yang memperpanjang musim kemarau dan memicu kenaikan suhu ekstrem kini mulai dirasakan dampaknya secara langsung oleh petani di Kabupaten Sumbawa. Situasi ini menjadi alarm keras bagi daerah, mengingat Kecamatan Lape dan sekitarnya merupakan salah satu lumbung pangan utama yang menopang pasokan beras di Kabupaten Sumbawa. Jika krisis di wilayah strategis ini dibiarkan, stabilitas ketahanan pangan daerah dipastikan bakal terganggu. Berdasarkan data resmi Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa yang dipublikasikan melalui suarantb, akumulasi lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Kecamatan Lape dan Plampang meluas hingga186,53 hektar, di mana total 45,1 hektar tanaman padi dipastikan puso atau gagal panen total. Khusus di wilayah Kecamatan Lape, tercatat total 87 hektar lahan padi serta 39 hektar lahan jagung yang terdampak oleh kekeringan akibat menyusutnya cadangan air tanah. Sementara di Kecamatan Plampang, luasan padi yang terdampak mencapai 98,9 hektar.

Mengapa El Nino Begitu Memukul Kawasan Lumbung Pangan?

Siklus El Nino tahun ini menyebabkan curah hujan di Kabupaten Sumbawa khususnya dan NTB umumnya menurun drastis di bawah normal, yang berimbas langsung pada penurunan debit air di bendungan strategis. Namun, hantaman El Nino di kawasan salah satu lumbung pangan ini kian diperparah oleh kurangnya mitigasi dan kemungkinan adanya pelanggaran pola tanam oleh sebagian petani di lapangan.

Banyak kelompok tani memaksakan tetap menanam padi di luar jadwal yang direkomendasikan. Menanam komoditas yang banyak mengkonsumsi air seperti padi di tengah ancaman El Nino tanpa jaminan ketersediaan debit air yang aman terbukti menjadi kombinasi fatal yang berujung pada gagal panen massal.

Langkah Tanggap Darurat di Lapangan

Di tengah krisis air ini, kolaborasi penting dari Kementerian PU melalui Satgas Kekeringan BBWS Nusa Tenggara I sempat membawa angin segar. Dengan mengerahkan armada truk tangki, penyaluran air irigasi darurat dilakukan secara berkala ke Daerah Irigasi Mamak di Desa Hijrah, Kecamatan Lape. Langkah responsif tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 18,6 hektar sawah berumur 70 hari milik 40 petani sebelum kondisinya memburuk menjadi puso.

Sebagai langkah pemulihan musibah ini untuk meringankan beban para petani, Pemkab Sumbawa melalui Dinas terkait harus menyiapkan skema bantuan bibit gratis bermutu dan penyaluran pupuk yang tepat untuk menyokong masa pemulihan pada musim tanam berikutnya.

Edukasi Bersama: Bersahabat dengan Iklim Baru

Fenomena kekeringan yang terjadi di Kecamatan Lape dan Plampang ini harus menjadi sarana edukasi dan evaluasi mendasar bagi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Sumbawa:

a. Bagi Petani (Paham Iklim & Adaptif): Sebagai motor penggerak pangan, petani harus mengerti bahwa El Nino bukanlah kemarau biasa. Menghadapi fenomena ini, petani wajib patuh pada kalender tanam pemerintah dan bersedia secara kolektif beralih ke tanaman palawija atau tanaman lain yang ramah air saat pasokan air terbatas demi menjaga produktivitas lahan.

b. Bagi Masyarakat (Kearifan Mengelola Air): Masyarakat luas perlu membangun budaya hemat air dan budaya gotong royong yang kokoh untuk menjaga kebersihan saluran irigasi guna meminimalisir kebocoran distribusi air ke area persawahan.

c. Bagi Pemerintah Daerah (Urgensi Sinergi Lintas SKPD): Mengingat kecamatan Lape menjadi salah satu pilar penting pangan daerah, Pemkab Sumbawa dituntut untuk serius dan fokus dalam mengantisipasi dampak jangka panjang El Nino.

 

Langkah penyelamatan salah satu lumbung pangan ini tidak bisa dibebankan kepada Dinas Pertanian saja, melainkan harus melibatkan berbagai SKPD terkait secara terintegrasi: Dinas Pertanian – Fokus pada edukasi kalender tanam, pengawasan kelompok tani, penyediaan benih adaptif iklim, serta menjaga stabilitas stok pangan daerah agar tidak terjadi kelangkaan.

Dinas PUPR – Fokus pada normalisasi saluran irigasi, perbaikan kebocoran infrastruktur air, dan manajemen pembagian debit air bendungan yang tegas ke wilayah-wilayah sentra produksi. BPBD – Bersama instansi terkait memperkuat early warning system/sistem peringatan dini cuaca ekstrem dan pemetaan berkala wilayah rawan kekeringan. Dinas DPMD – Mendorong pemerintah desa di kawasan lumbung pangan untuk memanfaatkan Dana Desa dalam membangun infrastruktur air skala kecil (seperti sumur bor pertanian atau embung desa) sebagai cadangan saat kemarau darurat seperti yang terjadi saat ini

Ancaman El Nino tidak bisa dihindari, namun status Lape sebagai salah satu lumbung pangan Kabupaten Sumbawa harus tetap dipertahankan. Kerugian materi akibat gagal panen dapat ditekan secara signifikan jika petani, masyarakat, dan seluruh jajaran SKPD di Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa kompak menerapkan strategi pertanian yang cerdas iklim serta disiplin dalam manajemen tata kelola air.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *