Sumbawa, SelarasNews.id – Wakil Bupati Sumbawa – Drs. H. Mohamad Ansori menghadiri kegiatan Bedah Buku “Pulau Sumbawa Tahu 1847” karya Heinrich Zollinger yang digelar di Auditorium Universitas Samawa, pada kesempatan tersebut turut hadir,Wakil Ketua 3 DPRD Kabupaten Sumbawa, Dandim 1607 Sumbawa atau yang mewakili, Kepala OPD terkait, Ketua Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Samawa Rektor Universitas Samawa, para Wakil Rektor di lingkungan Universitas Samawa, para pimpinan perguruan tinggi di Kabupaten Sumbawa, para pembedah buku dan Ketua forum kepala desa Kabupaten dan Kecamatan se Kabupaten Sumbawa, pada Kamis, (27/08).
Dalam sambutan, Wabup Ansori mengapresiasi terselenggaranya kegiatan kajian ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk “Tana Samawa” dan generasi ke depan.
Baca juga : TP-PKK Sumbawa Sosialisasikan Hasil Rakernas X PKK Tahun 2025
“Pemerintah daerah bangga dan mengapresiasi atas terselenggaranya bedah buku ini. Dari sinilah akan muncul ide-ide, gagasan, bahkan kajian-kajian. Hasil bedah buku ini nantinya juga dapat kita gunakan,” ujarnya

Pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sumbawa menyoroti kondisi Sumbawa saat ini yang merupakan wilayah besar dengan masyarakat majemuk.
“Apakah Sumbawa ini akan mempertahankan tradisionalnya, ataukah Sumbawa ini akan kita bawa menjadi kota metropolitan. Ini kondisi yang hari ini kita saksikan,” katanya.
Baca juga : Menuju Sumbawa Bebas Stunting, Wabup Sumbawa Ajak Semua Pihak Bersinergi Melalui Genting
Menurutnya, tantangan pemerintah adalah bagaimana jika ingin maju menjadi kota, budaya dan adat Sumbawa tetap lestari. Sebaliknya jika ingin mempertahankan tradisi, kegiatan-kegiatan budaya harus terus dibudayakan.
“Masyarakat harus menjadi masyarakat yang tidak ketinggalan zaman, tapi di sisi lain tradisi budaya kehidupan masyarakat harus kita pertahankan. Ini yang kita namakan peradaban yang kita jaga dan kita wariskan kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Wakil Bupati Sumbawa juga menyinggung isi buku yang diterjemahkan oleh Poetra Adi Soerjo dari naskah tahun 1800-an. “Kalau kami dulu masih kecil ada bahasa ‘menyuluh’, membawa obor untuk mencari dengan penerangan. ‘Suluh’ ini artinya penerang. Sama dengan Sumbawa. Sejarah kalau kita ungkap tidak akan habis-habis. Kalau kita lestarikan dan kita budayakan, sejarah itu akan membawa dampak kepada generasi muda,” jelasnya.
Wakil Bupati Sumbawa menekankan belajar sejarah tidak hanya untuk diingat, tapi menjadi pelajaran berharga agar masyarakat punya kepribadian dan karakter.
Baca juga : Respons Cepat Laporan Warga, Sat Samapta Polres Sumbawa Amankan Pelajar Yang Terlibat Tawuran
“Kalau masyarakat tidak punya kepribadian, pembangunan yang dilakukan tidak punya arah. Tidak ada tangan, tidak ada semangat,” ujarnya.
Wakil Bupati Sumbawa juga menyampaikan terima kasih kepada para pembedah buku: Prof. H. Iwan Jazadi, Ph.D selaku Ketua STKIP para Cendekia NW Sumbawa, pembedah 1,) Dr. Burhanuddin, M. Hum. (Akademisi dan peneliti Universitas Mataram pembedah 2) dan Nurdin Ranggabrani,SH.,MH (penulis dan sejarawan pembedah 3)

“Kami yakin nanti ada kenang-kenangan dari buku ini untuk bisa kami pelajari sehingga menjadi pedoman kehidupan sehari-hari di Kabupaten Sumbawa,” tutupnya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan bedah buku Pulau Sumbawa yang diserahkan langsung oleh Wakil Rektor Universitas Samawa – Muhammad Yamin,SE.,M.Si kepada Wakil Bupati Sumbawa yang didampingi oleh para pembedah buku Pulau Sumbawa. (SN/01)


Pingback: Hadiri Malam Tasyakuran HUT ke-81 RI di Lape, Wabup Sumbawa Ingatkan Momentum Kemerdekaan Tidak Hanya Seremonial - Selaras News