Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa, Wabup Sumbawa Tekankan Nilai Tau Samawa Haris Jadi Kompas Masa Depan

Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa, Wabup Sumbawa Tekankan Nilai Tau Samawa Haris Jadi Kompas Masa Depan

Sumbawa, SelarasNews.id – Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, menghadiri Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa di Pondok Pesantren Dea Malela, Lenangguar, Sumbawa, pada Jumat, (25/09) lalu.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A., Rektor Universitas Samawa Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., Ustadz H. Yadi Surya Diputra, S.Sos., M.A. (Ustadz Suryo), serta sejumlah tokoh Tana Samawa.

Baca juga : Cegah Pekerja Rentan Jatuh ke Kemiskinan, Bupati Sumbawa Dalami Strategi Kota Makassar

Wakil Bupati menegaskan, Silatulfikri bukan sekadar forum silaturahmi, tetapi ruang untuk menyatukan hati dan pikiran dalam merumuskan nilai yang akan menjadi pegangan masyarakat Sumbawa di masa depan.

“Yang kita pikirkan bukan hanya Sumbawa hari ini, tetapi Sumbawa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Wabup Sumbawa melanjutkan, nilai-nilai ‘Tau Samawa tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi budaya. “Karena itu, kemajuan pembangunan harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan jati diri masyarakat,” lanjutnya.

Baca juga : 25 Sandro Tanah Samawa Siap Ramaikan Barampok Maras di Taliwang

Wabup juga menyebut, sejumlah indikator menunjukkan Sumbawa terus bergerak maju. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,12 persen, tingkat kemiskinan turun menjadi 11,79 persen, dan tingkat pengangguran terbuka berada pada 2,60 persen.

“Pembangunan bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang tumbuh. Kita harus tetap tahu dari mana kita berasal. Taket ko nene, kangila boat lenge harus tetap menjadi kompas,” katanya.

Wabup Sumbawa berharap Silatulfikri tidak berhenti pada upaya menggali masa lalu, tetapi mampu menjawab tantangan masa depan dengan menyaring nilai-nilai lama yang masih relevan.

“Tidak semua yang baru harus diterima. Kita membutuhkan filter. Karena itu, mari bertanya, nilai apa dari masa lalu yang masih relevan untuk menghadapi masa depan,” tegasnya. (SN/01)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *